BREAKING NEWS

Kadisdikbud Wajo Wacanakan Sekolah Lima Hari, Dinilai Tingkatkan Kualitas Pembelajaran dan Efektivitas MBG



KOMPASTIMURNEWS.com
WAJO, KompasTimurNews.com – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wajo, Drs. H. Alamsyah, M.Si, mewacanakan penerapan sistem sekolah lima hari bagi satuan pendidikan di Kabupaten Wajo mulai Tahun Pelajaran 2026/2027.

Menurut Alamsyah, kebijakan yang direncanakan mulai diterapkan setelah libur kenaikan kelas pada Juli 2026 tersebut bukan sekadar mengurangi hari belajar di sekolah, melainkan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh.



Ia menjelaskan, pengaturan waktu belajar yang lebih terstruktur akan memungkinkan proses pembelajaran berlangsung lebih efektif dan bermakna. Selain itu, guru memiliki kesempatan yang lebih baik dalam menyiapkan materi pembelajaran sehingga penerapan konsep deep learning dapat berjalan lebih optimal.

“Insya Allah, rencana ini akan mulai diterapkan pada tahun pelajaran 2026/2027 setelah siswa kembali masuk sekolah usai libur kenaikan kelas. Program sekolah lima hari memberikan ruang bagi peserta didik untuk belajar secara lebih fokus dan berkualitas. Di sisi lain, guru juga dapat mengelola waktu kerja dengan lebih efektif sehingga proses pembelajaran menjadi lebih terarah,” ujar Alamsyah, Minggu (21/6/2026).

Ia menambahkan, tambahan waktu libur dapat dimanfaatkan siswa untuk berbagai kegiatan positif, seperti pengembangan bakat, olahraga, seni, kegiatan keagamaan, maupun aktivitas bersama keluarga.

Menurutnya, sistem sekolah lima hari juga berpotensi memperkuat keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan anak. Dengan waktu kebersamaan yang lebih banyak, komunikasi antara orang tua dan anak dapat terjalin lebih baik sehingga pengawasan terhadap perkembangan belajar maupun pembentukan karakter menjadi lebih optimal.

“Peran keluarga merupakan fondasi penting dalam pendidikan. Melalui sistem sekolah lima hari, orang tua memiliki kesempatan lebih besar untuk mendampingi anak serta menanamkan nilai-nilai budaya, agama, dan karakter yang menjadi bagian penting dalam proses pendidikan,” katanya.

Selain itu, Alamsyah menilai sistem tersebut dapat mengurangi tingkat kelelahan siswa, terutama bagi mereka yang menempuh perjalanan cukup jauh menuju sekolah. Orang tua juga berpotensi menghemat biaya transportasi maupun kebutuhan harian sekolah.

Menurutnya, pola sekolah lima hari juga lebih selaras dengan sistem kerja yang telah diterapkan di berbagai instansi pemerintah dan lembaga lainnya.

“Penyesuaian jadwal ini dapat membantu menciptakan ritme kehidupan keluarga yang lebih teratur. Siswa, guru, dan orang tua memiliki waktu yang lebih banyak untuk kegiatan sosial, budaya, maupun keagamaan,” ujarnya.

Terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Alamsyah menilai penerapan sekolah lima hari dapat mendukung efektivitas distribusi makanan bergizi kepada peserta didik. Pengawasan kualitas layanan serta pemenuhan standar gizi dinilai lebih mudah dilakukan dengan jadwal yang lebih terkontrol.

“Program MBG akan lebih efektif karena distribusi makanan dapat dikelola secara optimal. Dengan terpenuhinya kebutuhan gizi siswa, konsentrasi dan semangat belajar mereka diharapkan semakin meningkat,” jelasnya.

Meski demikian, Alamsyah menegaskan bahwa wacana sekolah lima hari yang berkembang di Kabupaten Wajo masih akan mempertimbangkan berbagai aspek serta masukan dari masyarakat sebelum diterapkan secara menyeluruh.

Namun secara prinsip, kata dia, kebijakan tersebut sejalan dengan upaya meningkatkan mutu pendidikan sekaligus menciptakan keseimbangan antara pembelajaran di sekolah dan pembinaan karakter di lingkungan keluarga.

“Tujuan utamanya adalah menghadirkan pendidikan yang lebih berkualitas, efektif, dan berpihak pada tumbuh kembang peserta didik. Kami berharap kebijakan ini nantinya dapat memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan di Kabupaten Wajo,” tutupnya.

Penulis: Hermanto BRC/Kabiro Wajo
Posting Komentar